Rukun-rukun shalat ada 18:
- Niat.
- Berdiri bagi yang mampu.
- Takbiratul ihram (membaca takbir pembuka shalat).
- Membaca surat aI-Fatihah dan basmalah termasuk ayat surat aI-Fatihah.
- Rukuk.
- Thumakninah (berdiam) dalam rukuk,
- Iktidal (bangun dan rukuk).
- Thumakninah (berdiam) dalam iktidal (bangun dan rukuk)
- Sujud.
- Thuma’ninah (berdiam) dalam sujud.
- Duduk antara 2 sujud.
- Thuma’ninah (berdiam) dalam duduk antara 2 sujud.
- Duduk tahiyat akhir.
- Membaca syahadat dalam duduk tahiyat akhir.
- Membaca shalawat Nabi dalam duduk tahiyat akhir.
- Membaca salam yang pertama.
- Niat keluar dan shalat.
- Tartib (urut berdasarkan urutan pertama sampai terakhir urutan ke-1 7).
Tingkatan Niat ada 3 :
- Manakala shalat itu fardhu maka wajib bermaksud mengerjakan ( قصد الفعل ), menentukan jenis shalat dan menerangkan kefardhuannya.
- Manakala shalat sunnah, yang terbatas oleh waktu seperti shalat rawatib atau shalat sunnah yang terikat sebab maka wajib menyengaja mengerjakannya ( قصد الفعل )dan menentukan shalat ( التعيين).
- Manakala shalat sunnah mutlak, maka hanya wajib bermaksud (menyengaja) mengerjakannya (saja).
Syarat Takbiratul Ihram ada 6 :
- Harus dibaca ketika berdiri jika shalat fardhu
- Harus dengan bahasa arab
- Harus dengan lafadz Jalalah “ ”لله
- Harus dengan lafadz “Akbar/ ” أكبر
- Tertib antara 2 lafadz tersebut yaitu لله أكبر
- Hamzah pada lafadz “Allah/ لله ” tidak boleh dibaca panjang
- Ba’ ( ب) pada lafadz “akbaru/ أكبر ” tidak boleh dibaca panjang
- Ba’ ( ب) pada lafadz “akbaru/ أكبر ” tidak boleh dibaca tasydid
- Sebelum lafadz “Allah/ لله ” tidak boleh ditambah “wa”
- Diantara lafadz “Allah/ لله ” dan “Akbaru/ أكبر ” tidak boleh berhenti lama
- Tidak boleh berhenti sebentar
- Seluruh huruf-huruf takbiratul Ihram harus bisa didengar oleh telinga di Mushalli sendiri
- Lafadz “ لله أكبر ” harus diucapkan ketika menghadap kiblat
- Tidak boleh merusak atau mengubah satu huruf dari huruf-huruf takbiratul Ihram
- Bila sebagai makmum, takbiratul Ihram harus sesudah Imam
Syarat membaca Al-Fatihah 10 :
- Tertib
- Berurut-urutan
- Menjaga huruf-hurufnya
- Menjaga tasyid-tasydidnya
- Diantara ayat-ayat fatihah, ketika membaca tidak boleh berhenti terlalu lama atau sebentar dengan maksud memotong bacaan
- Harus membaca semua ayat, basmalah termasuk ayat Al-Fatihah
- Tidak boleh ada bacaan yang salah (Lahn) yang dapat merusak makna Al-Fatihah
- Al-Fatihah harus dibaca ketika berdiri shalat fardhu
- Seluruh bacaan Al-Fatihah harus didengar oleh si Mushalli sendiri
- Diantara ayat-ayat Fatihan jangan sampai diselingi oleh dzikir yang lain
Tasydid pada surat Al-Fatihah ada 14 :
- Bismillaah tasydidnya diatas Lam
- Ar-rahmaan tasyidnya diatas Ra’
- Arrahiim tasydidnya diatas Ra’
- Alhamdulillaah tasydidnya diatas Lam Jalalah
- Rabbil ‘Alamiin tasydidnya diatas Ba’
- Ar-rahmaan tasyidnya diatas Ra’
- Ar-rahiim tasydidnya diatas Ra’
- Maaliki Yaumiddiin tasyidnya diatas Dal
- Iyyaka na’budu tasyidnya diatas Ya’
- Waiyyaka nasta’iin tasyidnya diatas Ya’
- Ihdinash shirathal Mustaqiim tasyidnya diatas Shad
- Shirathal ladziina tasyidnya diatas Lam
- An’amta alayhim ghairil maghdhuubi alaihim waladhdhoolliin tasyidnya diatas dlo
- .....…dan Lam
Syarat Sujud ada 7
- Harus dengan 7 anggota badan (dahi, telapak tangan, kedua lutut dan jari-jari kedua kaki yang dalam)
- Harus dengan dahi terbuka
- Kepala harus ditekan (ketika meletakkan di tempat sujud)
- Tidak boleh ada tujuan lain ketika membungkuk kecuali untuk sujud
- Tidak boleh sujud diatas sesuatu yang bergerak bila bergerak ketika untuk sujud
- Kepalanya harus lebih rendah daripada pantat
- Harus tuma’ninah
Tasyid-tasyid pada tasyahud ada 21, itu (karena) ditambah 5 jika dibaca dengan sempurna, dan 16 pada bacaan yang paling singkat. Maksudnya bila dibaca dengan sempurna maka tasydidnya ada 21, bila disingkat ada 16 :
- التحيات - tas’yidnya ada pada Ta’ dan Ya’
- لمباركات الصلوات - ada pada Shad
- طيبات - ada pada Tha’ dan Ya’
- لله - ada pada lam Jalalah
- السلام - ada pada Sin
- عليك أيھا النبي - ada pada Ya’ dan Nun
- ورحمه لله - ، ada pada Lam Jalalah
- وبركاته السلام - ada pada Sin
- علينا وعلى عباد لله - ada pada Lam Jalalh
- الصالحين - ada pada Shad
- أشھد أن لاإله - ada pada lam Alif (karena Idgam)
- إلا لله - ada pada Lam alif dan Jalalah
- وأشھدأن - ، ada pada Nun
- محمدا رسول لله - ada pada mim lafadz “Muhammad”, Ro’ (karena Idgham) dan ada pada Lam jalalah.
Tasydid-tasydid pada paling pendeknya bacaan Shalawat ada 4 :
- اللھم - : ada ada Lam Jalalah dan Mim
- صل - ada pada Lam
- على محمد - ada pada Mim
Saktah (berhenti sebentar) dalam shalat ada 6 :
- Antara takbiratul Ihram dan Iftitah
- Antara fatihah dan ta’awudz
- Antara membaca Fatihah dan membaca Ta’awudz
- Antara membaca Amin dan akhir fatihah
- Antara membaca amin dan membaca surat
- Antara membaca surat dan rukuk
Kesunahan Sebelum Shalat
Kesunahan sebelum mengerjakan shalat ada 2 macam:
- Azan.
- Iqamah.
Sunnah Ab’ad shalat ada 7 :
- Tasyahud awal
- Duduk untuk tasyahud awal
- Membaca shalwat nabi pada tasyahud awal
- Membaca shalawat kepada keluarga Nabi pada tasyahud akhir
- Membaca doa qunut pada shalat Subuh dan shalat Witir pada pertengahan yang kedua pada bulan Ramadhan.
- Membaca shalawat salam kepada Nabi pada Qunut
- Membaca shalawat kepada keluarga Nabi pada Qunut
Sunah Haiat Shalat
Sunah Haiat dalam menggerakkan shalat ada 15 macam, yaitu:- Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, rukuk dan iktidal (bangun dari rukuk) dan bangun dari tasyahud awal.
- Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.
- Tawajjuh (membaca doa iftitah).
- Membaca ta’awudz.
- Mengeraskan bacaan (aI-Fatihah, surat-surat pendek, dan takbir) ketika shalat jahr, dan melirihkannya ketika shalat sirr.
- Membaca ‘Aamiin”.
- Membaca surat-surat aI-Qur’an setelah membaca aI-Fatihah.
- Membaca takbir ketika rukuk dan bangun dari rukuk
- Membaca sami’aIIahu liman hamidah, rabbana laka aI-hamd” ketika iktidal (bangun dari rukuk).
- Membaca tasbih dalam rukuk dan sujud.
- Meletakkan tangan pada paha, ketika duduk.
- Mengembangkan jari-jemari tangan kin dan menggenggam Semua jari-jemari tangan kanan kecuali jan telunjuk, kemudian mengacungkannya ketika sampai bacaan syahadat.
- Duduk iftirasy pada semua duduk, kecuali duduk akhir.
- Duduk tawaruk pada saat duduk akhir.
- Membaca salam yang kedua.
Duduk iftirasy adalah duduk dengan posisi menegakkan atau menghamparkan telapak kaki kanan dan menghamparkan telapak kaki kiri, sementara pantat duduk di atas hamparan telapak kaki kiri.
Duduk tawaruk adalah duduk dengan posisi menegakkan atau menghamparkan telapak kaki kanan dan menyilangkan kaki kin hingga telapaknya berada di bawah atau di atas betis kaki kanan.
Perbedaan Perempuan dengan Laki-laki Saat Shalat
Perbedaan perempuan dengan laki-laki pada saat shalat ada 5 macam:
Bagi laki-laki:
- Laki-laki merenggangkan kedua siku dan lambung pada saat rukuk dan sujud.
- Laki-laki mengecilkan lambungnya pada saat rukuk dan sujud.
- Laki-laki mengeraskan bacaan pada bacaan jahr.
- Laki-laki mernbaca tasbih ketika mengingatkan imam.
- Aurat laki-laki antara pusar dan kedua lutut.
- Perempuan merapatkan kedua siku ke lambung pada saat rukuk dan sujud.
- Perempuan melirihkan bacaannya ketika ada laki-laki lain yang bukan muhrim.
- Perempuan bertepuk ketika mengingatkan imam.
- Aurat perempuan seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan.
- Sedangkan bagi budak perempuan auratnya sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan kedua lutut.
Perkara yang Membatalkan Shalat
Perkara-perkara yang membatalkan shalat ada 11:- Berbicara dengan sengaja.
- Banyak bergerak.
- Berhadas.
- Terkena najis.
- Terbukanya aurat.
- Berubahnya niat.
- Tidak menghadap kiblat.
- Makan.
- Minum.
- Tertawa sampai mengeluarkan suara.
- Murtad.
- Kejatuhan najis kecuali jika langsung dibuang tanpa dibwa
- Aurat terbuka kecuali bila langsung ditutup
- Berbicara dengan dua huruf atau satu huruh yang bisa dipahami
- Sengaja melakukan hal-hal yang bisa membatalkan puasa
- Makan banyak sekalipun dalam keadaan lupa
- Tiga kali bergerak secara berturut-turut walaupun dalam keadaan lupa
- Melompat yang terlalu keras
- Memukul yang terlalu keras
- Sengaja menambah rukun yang bersifat Fi’liyah
- Mendahului Imam dengan 3 rukun yang bersifat fi’li /perbuatan
- Ketinggalan Imam dengan dua rukun fi’li tanpa adanya udzur
- Niat membatalkan shalat
- Menggantungkan (membatalkan) shalat; (contoh, jika turun hujan akan membatalkan shalat)
- Ragu-ragu dalam membatalkan shalat
Jumlah Rakaat dan Rukun dalam Shalat Fardhu
Total Jumlah rakaat shalat fardhu ada 17 rakaat.Di dalam 17 rakaat tersebut terdapat rukun-rukun yang harus dipenuhi, yaitu:
- 34 kali sujud.
- 94 kali takbir.
- 9 kali tasyahud.
- 10 kali salam.
- 153 kali bacaan tasbih.
perinciannya sebagai berikut:
- Di dalam shalat Subuh 2 rakaat terdapat 30 rukun.
- Di dalam shalat Maghrib 3 rakaat terdapat 42 rukun.
- Di dalam shaiat yang jumlah rakaatnya 4 rakaat: Zuhur, Asar, dan Isya terdapat 54 (lima puluh empat) rukun.
Shalat Fardhu bagi yang Tidak Mampu Berdiri
Bagi orang yang tidak mampu untuk berdiri pada shalat fardhu, boleh melaksanakan shalat dengan cara duduk. Dan bagi orang yang tidak mampu untuk shalat dengan duduk diperbolehkan mengerjakan shalat dengan berbaring.Sujud Sahwi
Perkara-perkara yang tertinggal (tidak dikerjakan) dan shalat meliputi 3 pembahasan:- Fardhu.
- Sunah
- Sunah Haiat.
Jika perkara yang tertinggal tersebut berupa sunah ab'ad, maka tidak perlu menggerakkannya, akan tetapi sujud sunah melakukan sujud sahwi (sebelum salam).
Jika perkara yang tertinggal tersebut berupa hai'at, maka tidak perlu mengerjakannya kembali dan juga tidak disunahkan melakukan sujud sahwi.
Jika seorang mushalli (orang yang shalat) lupa pada jumlah bilangan shalat, maka dia harus mendasarkan pada bilangan yang diyakini, yaitu dengan memilih bilangan yang Iebih sedikit dan (sebelum salam) dia disunahkan sujud saFiwi.
Keterangan:
Adapun bacaan sujud sahwi adalah sebagal berikut:
Subhaana ma Iaa yanaa mu wa Iaa yas-huu. “Mahasuci Allah, Zat yang tidak tidur dan tidak lupa.”
Waktu yang Terlarang untuk Mengerjakan Shalat
Ada 5 waktu yang tdak diperbolehkan mengerjakan shalat, kecuali shalat yang memiliki sebab:- Setelah shalat Subuh sampai terbitnya matahari.
- Ketika terbitnya matahari, sehingga benar-benar sempurna terbitnya dan telah terangkat qadra rumhin (seukuran orang menombak).
- Ketika matahari benar-benar di pertengahan langit sampai waktu zawal (tergelincirnya matahari).
- Setelah shalat Asar sampai terbenamnya matahari.
- Ketika terbenamnya matahari sampai benar-benar sempurna tengelamnya
Selain itu larangan mengerjakari shalat tersebut tidak berlaku di tanah Haram (Makkah).